Dewis Akbar, Putra Pasundan Penggagas Lab Komputer Mini

Dewis Akbar, penggagas lab komputer mini.
Sumber :
  • YT Satu Indonesia

Teknodaily – Dewis Akbar, putra asli tanah Pasundan, tak hanya menjadikan teknologi sebagai ilmu yang ia kuasai, tetapi juga sebagai sarana pengabdian bagi masyarakat dan penjaga kearifan lokal. 

img_title Rekomendasi Tempat Wisata di Padang Terbaru 2025

Berkat dedikasinya dalam memajukan pendidikan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bagi anak-anak, Dewis berhasil menyabet SATU Indonesia Awards Nasional 2016 dari Astra, sebuah penghargaan bergengsi bagi sosok muda yang membawa perubahan positif.

Langkah Awal Mengubah Pendidikan TIK

img_title Motorola Kembali ke Indonesia, Intip Harga dan Spesifikasi HP Moto G45 5G

Dengan latar belakang akademik dari Institut Pertanian Bogor (IPB) di bidang Ilmu Komputer, Dewis memutuskan untuk pulang dan memulai misi besarnya di Garut. 

Ia melihat bahwa pendidikan di sekolah-sekolah dasar tempatnya mengajar, khususnya dalam bidang TIK, masih jauh dari memadai. Di SDN 10 Regol, misalnya, anak-anak hanya belajar teori komputer tanpa praktik, dan bahkan pengajaran terbatas pada pembuatan dokumen di Microsoft Office.

img_title Tahun 2027 Diperkirakan 83 Juta Pekerjaan akan Tergantikan oleh AI

Berbekal keprihatinan dan hasrat untuk mengubah keadaan, Dewis bersama rekannya, Budi Arifin, mendirikan Lab Komputer Mini menggunakan teknologi Raspberry Pi. 

Dengan perangkat sederhana namun efektif, ia menciptakan ruang bagi anak-anak untuk belajar dan bereksperimen. Ruang guru yang awalnya sepi berubah menjadi laboratorium tempat tawa, rasa ingin tahu, dan kreativitas anak-anak tumbuh subur.

STEAM Club, Mendidik Anak Mencipta Karya

Tak cukup puas hanya dengan pengajaran dasar komputer, Dewis mendirikan STEAM Club – sebuah kelompok ekstrakurikuler yang mengajarkan Science, Technology, Engineering, Art, dan Math. 

Lewat klub ini, anak-anak tidak hanya belajar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga diajari pemrograman dan pembuatan aplikasi. Dengan telaten, Dewis membimbing mereka memahami logika coding dan membuat aplikasi sederhana.

Meski tantangan besar menghadang – dari keterbatasan perangkat hingga kemampuan dasar anak-anak yang masih minim – Dewis tak pernah menyerah. Anak-anak yang sudah mahir komputer ia tugaskan untuk mengajari teman-temannya. 

Di sinilah tercipta kolaborasi dan rasa solidaritas. Bahkan anak-anak yang awalnya kesulitan mengetik satu kalimat pun lambat laun bisa menyelesaikan tugas pemrograman.

Inovasi Gamelan Elektronik

Puncak dari kreativitas Dewis dan anak-anak bimbingannya terwujud dalam sebuah inovasi yang menggabungkan teknologi dan budaya tradisional: Gamelan Elektronik. 

Halaman Selanjutnya
img_title