Waspada Macam-macam Penipuan Digital

Ilustrasi Artificial intelligence (AI).
Sumber :
  • Pixabay.

Teknodaily – Laporan 'Where's The Fraud: Protecting Indonesian Businesses from AI-Generated Digital Fraud', yang dikeluarkan penyedia solusi pencegahan penipuan identitas digital, Vida, mengklaim bahwa 100 persen pelaku bisnis di Indonesia khawatir terhadap meningkatnya ancaman penipuan berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) seperti deepfake.

img_title 5 HP Murah eSIM Terbaik September 2025: Kamera 200MP & Baterai Badak

Meski meresahkan, namun, 46 persen dari mereka belum memahami cara kerja teknologi tersebut. Laporan ini juga menyoroti empat jenis penipuan digital yang paling banyak menyerang bisnis di Indonesia, yakni penipuan berbasis teknologi AI (deepfake), rekayasa sosial (social engineering), pengambilalihan akun (account takeover), serta pemalsuan dokumen dan tanda tangan.

Founder and Group CEO Vida, Niki Santo Luhur, mengungkapkan berbagai potensi kerugian pebisnis di Indonesia yang dapat ditimbulkan dari empat gangguan keamanan berupa penipuan digital saat ini:

img_title Review Poco C85: HP Murah Kamera AI 50MP dan RAM Ekspansi hingga 16GB

1. Penipuan Identitas Digital (Identity Fraud)

Dipicu oleh penipuan digital yang semakin canggih dan memanfaatkan teknologi AI dan deepfake, 56 persen pelaku bisnis di Indonesia telah mengalami penipuan digital.

img_title 5 HP MediaTek Terbaru September 2025: Harga Murah Kamera Canggih dan Gaming Lancar

Bentuk penipuan identitas yang canggih ini menimbulkan risiko serius karena merusak kepercayaan dan meningkatkan potensi kehilangan data bagi bisnis, masalah pada hubungan antar stakeholders, dan hancurnya reputasi.

"Ketika penipu semakin canggih, kami menyarankan agar pebisnis mengadopsi langkah-langkah pencegahan untuk mengatasi ancaman digital," ungkap Niki melansir VIVA.co.id.

2. Rekayasa Sosial (Social Engineering)

Masyarakat di Indonesia seringkali menjadi korban berbagai jenis penipuan rekayasa sosial. Serangan phishing telah menjadi ancaman yang semakin umum dijumpai, kasus ini telah menjangkiti 67 persen pelaku bisnis di Indonesia. Smishing, ancaman serupa yang dilakukan melalui SMS, telah berdampak pada 51 persen pelaku bisnis.

Sedangkan, phishing—penipuan melalui suara—telah menargetkan 47 persen pelaku bisnis. Angka ini menunjukkan urgensi akan kebutuhan terkait sistem keamanan siber yang aman dan kesadaran masyarakat untuk mengatasi ancaman yang ada di sekitar.

3. Pengambilalihan Akun (Account Takeovers)

Account takeovers terjadi saat pelaku memanfaatkan kata sandi yang lemah dan kurangnya otentikasi multi-faktor melalui serangan credential stuffing dan phishing. Hal ini muncul sebagai isu yang paling marak terjadi, di mana 97 persen pelaku bisnis melaporkan upaya peretasan akun.

Halaman Selanjutnya
img_title