KBA Tanon, Desa Menari yang Kian Berseri

Anak-anak di Desa Tanon sedang menari.
Sumber :
  • YT Satu Indonesia

Teknodaily – Ada yang istimewa di lereng Gunung Telomoyo, tempat di mana embun pagi bersanding mesra dengan tarian. Di sana, berdiri sebuah desa bernama Tanon, yang kini dikenal sebagai Desa Menari—sebuah tempat di mana budaya dan harapan berkelindan dalam ritme yang harmonis. 

img_title Kisah Harianto Albar dan Cahaya yang Tak Pernah Padam

Desa ini tidak hanya hidup dalam langkah-langkah tarian, tetapi juga dalam semangat kebersamaan dan transformasi. Dari langkah-langkah kecil para penari hingga program besar Kampung Berseri Astra (KBA), Tanon menjadi bukti bahwa perubahan tak selalu butuh kemewahan, tetapi yang utama adalah komitmen dan keberanian bermimpi.

Sebuah Mimpi Besar Tanon di Antara Stigma dan Penolakan

img_title Menjelang Nyepi, Mengenal Budaya Ogoh-Ogoh, Sejarah dan Makna Filosofis di Dalamnya

Perjalanan menuju kejayaan Desa Menari tidak dimulai dengan hamparan karpet merah. Pada awalnya, banyak warga memandang skeptis rencana Trisno—sosok penggerak di balik perubahan ini. Masyarakat masih lekat dengan mitos-mitos lama.

Namun, Trisno tak gentar. Sebagai sarjana pertama di Tanon, ia memutuskan kembali ke tanah kelahirannya, menyadari bahwa sejatinya pendidikan tak hanya berarti keluar dari desa, tetapi juga kembali dan membangun desa.

img_title 5 HP Murah eSIM Terbaik September 2025: Kamera 200MP & Baterai Badak

Sutrisno, penggerak desa Menari Tanon.

Photo :
  • YT Satu Indonesia

Dengan pendekatan yang sabar, ia mendatangkan akademisi untuk membuka wawasan masyarakat. Perlahan, tembok stigma itu runtuh. Trisno meyakinkan warga bahwa keberhasilan bukanlah hasil dari belas kasihan, melainkan buah dari karya nyata. Seperti pepatah yang ia gemakan, “Berkarya lebih baik daripada meminta.” Dari keyakinan ini, Desa Menari perlahan mulai berdiri tegak di atas pondasi harapan dan kerja sama.

Pilar-Pilar yang Menguatkan Desa Menari Tanon

Dalam semangat Kampung Berseri Astra (KBA), Desa Menari menyatukan empat pilar penting—pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan—menjadikannya desa yang tak hanya indah dilihat, tetapi juga produktif dan berkelanjutan.

Di bidang pendidikan, Omah Cikal berdiri menjadi perpustakaan desa, tempat anak-anak berkenalan dengan dunia melalui buku. Di sini, mereka tak hanya belajar membaca tetapi juga belajar membangun desa. Wi-Fi gratis tersedia, memudahkan mereka mengakses ilmu dan menyelesaikan tugas sekolah. 

Pendidikan di Desa Menari bukan sekadar angka di rapor, tetapi juga pelajaran tentang mencintai alam. Anak-anak diajarkan memilah sampah dan membuat ecobricks, agar sedari dini mereka paham bahwa sampah bukanlah musuh, melainkan sumber kreativitas.

Halaman Selanjutnya
img_title