Gara-gara ChatGPT, OpenAI Bakal Merugi Rp 81,5 Triliun Tahun Ini

ChatGPT.
Sumber :
  • ChatGPT.

Teknodaily – OpenAI, yang mengoperasikan layanan kecerdasan buatan (AI) ChatGPT, diprediksi akan mengalami kerugian hingga US$ 5 miliar (Rp 81,5 triliun) tahun ini. Kerugian ini terjadi karena beban biaya yang besar untuk menjalankan produk chatbot AI seperti ChatGPT. 

Penjualan Moto G45 5G Laku Keras di Indonesia, Motorola Siapkan HP Berikutnya yang Bakal Rilis

Sejak didirikan pada tahun 2015, OpenAI sudah menerima pendanaan tujuh putaran dan mengumpulkan lebih dari US$ 11 miliar. Saat ini perusahaan milik Sam Altman itu memiliki valuasi US$ 80 miliar.

Tapi, menjalankan perusahaan AI membutuhkan biaya yang sangat besar. Laporan The Information mengindikasikan OpenAI tidak menghasilkan cukup uang dan berpotensi mengalami kerugian operasional sebesar US$ 5 miliar pada akhir tahun finansial.

Review Vivo T4 5G, HP dengan Baterai Monster 7.300mAh

Melansir The New York Post, Rabu 31 Juli 2024, OpenAI akan menghabiskan dana sebanyak US$ 7 miliar tahun ini untuk melatih dan mengoperasikan chatbot populernya ChatGPT. Namun, perusahaan kemungkinan perlu mengumpulkan lebih banyak uang dalam 12 bulan ke depan. 

Chat GPT

Photo :
  • idxchannel.com
Realme GT7 Hadir Bulan ini dengan Dimensity 9400+ 3nm, Intip Harganya

Pada tahun ini OpenAI akan membelanjakan hampir US$ 4 miliar yang dialokasikan untuk menyewa kapasitas server dari Microsoft yang diperlukan untuk memelihara ChatGPT, dan model-model bahasa dengan kapasitas besar yang mendukung chatbot, kata laporan The Information.

Sebanyak US$3 miliar diperlukan untuk menutupi biaya pelatihan model AI dengan data baru. Dana itu termasuk pengeluaran OpenAI untuk kesepakatan dengan penerbit guna mendapatkan izin penggunaan konten berhak cipta mereka, seperti perjanjian perusahaan dengan induk perusahaan The Post, News Corp.

Selain itu, OpenAI diperkirakan akan menghabiskan US$1,5 miliar per tahun untuk biaya tenaga kerja bagi sekitar 1.500 karyawan, menurut The Information.

Perusahaan tersebut, yang telah menerima investasi sebesar US$13 miliar dari Microsoft, sudah menghabiskan banyak uang untuk mempertahankan posisinya karena pesaing AI lainnya dan Google.